Selasa, 28 Desember 2010

Komersialisasi Pendidikan Tinggi

Oleh: Tata

Perguruan tinggi merupakan suatu wadah yang digunakan untuk Research & Development (R&D) serta arena penyemaian manusia baru untuk menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian serta kompetensi keilmuan sesuai bidangnya. Secara umum dunia pendidikan memang belum pernah benar-benar menjadi wacana publik di Indonesia, dalam arti dibicarakan secara luas oleh berbagai kalangan, baik yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan urusan pendidikan. Namun demikian, bukan berarti bahwa permasalahan ini tidak pernah menjadi perhatian.

Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar hadiah & gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.

Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?. Semoga masyarakat dan orang tua yang akan menyekolahkan putra putrinya tidak terjebak pada kondisi tersebut dan lebih bijak dalam memilih perguruan tinggi, sehingga putra-putrinya tidak terkesan asal kuliah.

Ditengah besarnya angka pengangguran di Indonesia yang telah mencapai lebih dari 45 juta orang, langkah yang harus ditempuh adalah mencari pendidikan yang baik dan bermutu yang dibutuhkan pasar. Bukan hanya murah saja dan asal. Tidak dipungkiri lagi bahwa selama ini, dunia industri kesulitan mencari tenaga kerja dengan keahlian tertentu untuk mengisi kebutuhan pekerjaan. Bila membuka lowongan, yang melamar biasanya banyak, namun hanya beberapa yang lulus seleksi.

Pasalnya jarang ada calon pegawai lulusan perguruan tinggi atau sekolah, yang memiliki keahlian yang dibutuhkan, karena kebanyakan berkemampuan rata-rata untuk semua bidang. Jarang ada yang menguasai bidang-bidang yang spesifik. Hal ini tentunya menyulitkan pihak pencari kerja, karena harus mendidik calon karyawan dulu sebelum mulai bekerja.

Sebagian besar perguruan tinggi atau sekolah mendidik tenaga ahli madya (tamatan D.III) tetapi keahliannya tidak spesifik.

Lebih parah lagi, bahkan ada PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Ini adalah cermin dari proses PEMBODOHAN BANGSA bukan mencerdaskan BANGSA. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang baik & berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.

Selain itu pula, apa yang menjadi barometer yang menunjukkan eksistensi sebuah perguruan tinggi? Untuk saat ini opini publik dan beberapa kalangan masyarakat bahwa eksistensi sebuah Perguruan Tinggi dilihat dari kuantitas mahasiswanya bukan kualitasnnya. Nah ini jelas sudah terlihat faktanya bahwa pendidikan di Indonesia hanya menjadi komoditi bisnis semata.

Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap pembelajaran dan merupakan terapi kesehatan jiwa bagi anak bangsa, harapan kami semoga komersialisasi pendidikan tinggi tidak menjadi sebuah komoditi bisnis semata, akan tetapi menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan Juga Bangsa Indonesia.


___________
Tata -- .

Etika Bisnis Islami

  Pengertian Etos Kerja
Etos berasl dari kata Yunani yang berarti sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi terhadap nilai bekerja. Dari kata ini kemudian muncul kata “ethic” yaitu pedoman, moral, dan perilaku atau dikenal dengan etiket yaitu bersopan santun.
Sedangkan bekerja adalah segala usaha maksimal yang dilakukan manusia, baik lewat gerak anggota tubuh ataupun akal untuk menambah kekayaan, baik diakukan secara perorangan ataupun secara kolektif, baik untuk pribadi ataupun untuk orang lain.
Aktivitas manusia dapat dikatakan bekerja jika mengandung dua aspek yang harus dipenuhi secara nalar, yaitu:
·      Aktivitasnya dilakukan karena ada dorongan untuk mewujudkan sesuatu sehingga tumbuh rasa tanggung jawab yang besar untuk menghasilkan karya atau produk yang berkualitas.
·      Apa yang dilakukan merupakan kesengajaan dan direncanakan sehingga timbul semangat untuk mengerahkan seluruh potensi yang dimiliki guna memberikan kepuasan dan manfaat.
Dari pengertian tersebut etos  kerja berarti cara atau pedoman perilaku dalam menjalankan suatu usaha atau kegiatan seseorang baik untuk pribadi maupun orang lain.
Menurut Soerjono Soekanto etos yaitu, (a) Nilai-nilai dan ide-ide dari suatu kebudayaan, dan (b) Karakter umum suatu kebudayaan. Sedangkan kerja merupakan suatu kegiatan atau aktivitas yang memiliki tujuan dan usaha guna membuat aktivitas tersebut bermanfaat.
Adapun etos kerja menurut Muchtar Buchori adalah sikap dan pandangan terhadap kerja, kebiasaan kerja yang dimiliki seseorang, suatu kelompok manusia atau suatu bangsa. Etos kerja adalah sifat, watak, dan kualitas batin manusia, moral, dan gaya estetik serta suasana batin mereka.
Etos kerja bagi seorang muslim bisa dimotivasi oleh kualitas hidup islami yang merupakan sebuah lingkungan yang lahir dari semangat tauhid, yang dijabarkan lewat amal shaleh, berarti bagi seorang muslim bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, namun juga manifestasi dari amal shaleh.   
Ciri-ciri Etos Kerja Muslim
·      Mereka kecanduan kejujuran
Jujur berasal dari kata shidq “kejujuran”. Kata shiddiq adalah bentuk penekanan dari shadiq yang berarti orang yang didominasi kejujuran Dalam bahasa Latin jujur bisa diartikan Honest atau honestus (honorable), atau honos (honour), yang berarti tidak pernah menipu, berbohong atau melawan hukum. Berani menyatakan sikap secara transparan, terbebas dari segala kepalsuan dan penipuan, hatinya terbuka dan selalu bertindak lurus sehingga memiliki keberanian moral yang lurus. Perilaku yang jujur adalah perilaku yang diikuti oleh sikap tanggung jawab atas apa yang diperbuat atau integritas.
Pribadi muslim merupakan tipe manusia yang terkena kecanduan kejujuran, dlam situasi apapun, dia merasa bergantung pada kejujuran dan bergantung pada amal shaleh, seperti terkena sugesti, sekali dia berbuat jujur atau amal shaleh lain maka dia akan ketagihan untuk terus mengulanginya. dia merasa merdeka kaena terpenjara dalam kejujuran dan bangga menjadi budaknya Allah.
·      Mereka memiliki komitmen (Aqidah, Aqad, Itiqad)
Commitment berasal dari bahasa latin commitere, to connect, entrust-the state of being obligated or emotionally impelled adalah keyakinan yang mengikat (aqad) sedemikian kukuhnya sehingga membelenggu seluruh hati nuraninya dan kemudian menggerakkan perilaku menuju arah tertentu yang diyakininya (I’tiqad).
Daniel Goldman, penulis buku laris, Working with Emotional intelligence, mengidentifikasikan cirri-ciri orang  yang berkomitmen antara lain:
1.         Siap berkorban demi pemenuhan sasaran perusahaan yang lebih penting.
2.         Merasakan dorongan semangat dalam misi yang lebih besar.
3.         Menggunakan nilai-nilai kelompok dalam pengambilan keputusan dan penjabaran berbagai pilihan.
·      Istiqomah, Kuat Pendirian
Pribadi muslim yang professional dan berakhlak memiliki sikap konsisten. Konsisten berasal dari bahasa Latin consistere harmony of conduct or practice with profession ability  to be asserted together without contradiction, yaitu kemampuan untuk bersikap secara taat asas, panang menyerah, dan mampu mempertahankan prinsip serta komitmennya walau harus berhadapan dengan resiko yang membahayakan dirinya.
Seseorang yang istiqomah tidak mudah berbelok arah betapapun godaan untuk mengubah tujuannya, dia tetap pada niat semula. Ucapan InsyaAllah harus benar-benar menjadi tekad yang kuat. Sikap Istiqomah atau konsisten, merupakan sikap untuk menunjukkan keyakinan yang berhadapan dengan tantangan.
·      Mereka Kecanduan Disiplin
Disiplin dalam bahasa Latin yaitu disciple, discipulus, yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tenang dan tetap taat walaupun dalam situasi yang sangat menekan.          
Disiplin adalah masalah kebiasaan. Setiap tindakan yang berulang pada waktu dan tempat yang sama. Kebiasaan positif yang harus dipupuk secara terus menerus. Pribadi yang berdisiplin sangat berhati-hati dalam mengelola pekerjaan dengan penuh tanggung jawab sehingga terarah pada hasil yang akan diperoleh, dan mampu menyesuaikan diri dalam keadaan yang menantang.
·      Konsekuen dan Berani Menghadapi Tantangan (Challenge)
Bagi seorang yang berkepribadian muslim hidup adalah pilihan (life is a choise) dan setiap pilihan merupakan tanggung jawab pribadinya. Rasa tanggung jawab itulah yang mendorong perilakunya untuk bergerak dinamis, sebuah motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan dan menjaga apa yang telah menjadi keputusan atau pilihannya. Orang yang konsekuen mempunyai kemampan untuk melakukan pengendalian dan mengelola emosinya menjadi penggerak positif untuk menjalani keyakinannya.
·      Mereka Memiliki Sikap Percaya Diri
Pribadi muslimyang percaya diri memancarkan raut wajah yang cerah dan berkharisma. Percaya diri melahirkan kekuatan, keberanian, dan tegas dalam bersikap. Orang yang berada di sekitarnya merasa optimis, tenteram, dan muthma’innah.menurt penelitian Boyatzis bahwa orang yang percaya diri lebih berprestasi daripada orang yang biasa-biasa saja.
Sikap percaya diri dapat kita lihat dari beberapa cirri, yaitu:
Ø Berani mengeluarkan pendapat atau gagasannya sendiri walaupun berisiko tinggi.
Ø Mampu mengendalikan emosinya, sehingga tetap tenang dan berpikir jernih walaupun dalam tekanan.
Ø Memiliki independensi kuat sehingga tidak mudah terpengaruh orang lain.
·      Mereka Orang yang kreatif
Pribadi muslim yang kreatif selalu ingin mencoba metode atau gagasan baru dan asli. Sehingga diharapkan hasil kinerjanya dilaksanskan secara efisien dan efektif.
Ciri-ciri orang yang kreatif menurut Goldman yaitu kuatnya motivasi untuk berprestasi, berkomitmen, inisiatif dan optimism. Dan masih menurut pengamatam Goldman lagi karakteristik orang kreatif itu meliputi beberapa tahapan yaitu:
1.    Keterbukaan, terbuka mau mendengar dan menerima banyak informasi. Aktif bertanya, membaca atau mengalami hal-hal yang baru.
2.    Pengendapan, sebagai akibat dari proses belajar dan keterbukaan dirinya terhadap rangsangan luar, pengetahuan, dan pengalaman orang lain.
3.    Reprouksi, senang untuk mencoba dan mengeluarkan kembali hasil pangamalannya dalam bentuk kreativitasnya yang orisinil.
4.    Evaluasi, senantiasa melakukuan evaluasi atau penilaian atas hasil kerjanya.
5.    Pengembangan Diri, terus enerus mengembangkan diri dan menghasilkan karya atau inovasi-inovasi baru.

PENERAPAN METODE JARH WA TAKDIL DALAM UJIAN KELULUSAN SKRIPSI MAHASISWA

Pengertian Skripsi
Mahasiswa dapat diwisuda ketika diterima skripsinya dan dinyatakan lulus oleh para guru besar yang telah mengujinya pada saat itu, seorang mahasiswa berjuang ekstra menyelesaikan tugas akhir yang menjadi simbol kelulusan jenjang pendidikan Strata Satu (S1). Mulai dari mengajukan judul, mendatangi Dosen Pembimbing yang belum tentu memiliki waktu luang, merangkai kata agar menjadi bahasa ilmiah, merevisi isi bab yang terlanjur dicorat-coret Dosen Pembimbing, pergi ke perpustakaan untuk mengumpulkan materi, mendatangi lokasi atau objek penelitian, melewati birokrasi yang melelahkan, menguraikan hasil penelitian yang membuat kepala pusing, membuat materi presentasi, sampai tidak bisa tidur karena stres memikirkan sidang. Syukur-syukur jika semuanya berjalan lancar. Inilah cerita singkat proses menyusun skripsi. Namun apakah sebenarnya yang dimaksud dengan skripsi itu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, 2005, Skripsi adalah; karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisnya.
Dari pengertian di atas, skirpsi memang seharusnya merupakan suatu karangan yang ilmiah, namun pada pada saat ini makna skripsi sebagai karangan ilmiah rasanya menjadi sebuah utopia (jauh dari kenyataan). Banyak fakta dilapangan yang menyatakan bahwa skripsi bukan lagi karangan ilmiah. Apalagi dalam studi ilmu sosial. Skripsi kini adalah sebuah karangan yang benar-benar ngarang, disusun menggunakan metode copy-paste, validitas datanya tak mampu mewakili jawaban masyarakat, dan tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Akibat dari masalah ini, sekarang banyak sekali lulusan-lulusan sarjana yang menjadi pengangguran dan tidak bekerja, entah hal itu karena memang tidak adanya lapangan pekerjaan atau karena mutu dan kwalitas lulusan yang diragukan karena dianggap tidak dapat mengikuti arus perkembangan jaman.
            Hal ini dapat dibuktikan dalam sebuah acara yang ditayangkan beberapa bulan yang lalu dimana dalam acara tersebut dikatakan bahwa Pengangguran terdidik atau sarjana yang belum mendapat pekerjaan– mencapai angka 50,3 persen dan jumlah wirausahawan di Indonesia tidak mencapai angka 2 persen dari jumlah total penduduk Indonesia.
            Keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan. Apakah benar  wacana lapangan kerja yang minim menjadi penyebab meledaknya jumlah pengangguran, terutama pengangguran terdidik. Karena faktanya, setiap hari di suratkabar harian, selalu terpampang beragam lowongan pekerjaan. Sebenarya keprihatinan di atas erat kaitannya pada masalah pendidikan. Skripsi yang bertele-tele menjadikan seorang calon intelektual hanya mampu berwacana, tapi tak mampu menjadikan wacananya menjadi kenyataan.
            Berikut beberapa alasan mengapa pada saatini skripsi tidak lagi relevan menjadi syarat kelulusan, yaitu:
1.      Hanya sedikit mahasiswa yang murni mengerjakan sendiri isi atau materi skripsinya. Tanpa ada copypaste, ataupun membayar jasa seseorang untuk menyelesaikan skripsinya.
2.      Kadang-kadang laporan hasil penelitian belum tentu benar dan jujur seperti adanya, karena bukan lagi rahasia umum banyak yang melakukan manipulasi data atau hasil penelitian dalam menyusun skripsinya, ironisnya sekarang ini jangankan skripsi hasi pemilu saja dapat dimanipulasi.
3.      Apakah skripsi itu benar-benar bermanfaat, bagaimana manfaatnya dan untuk siapa belum jelas.
Dari beberapa alasan saya di atas, sehingga dapat ditarik sebuah pertanyaan, masihkah layak skripsi jadi syarat kelulusan, karena memang seperti itulah kenyataan yang terjadi sekarang.
Oleh karena itu untuk mengatasi penyelewengan-penyelewengan tersebut agar skripsi dapat dijadikan standart kelulusan bagi mahasiswa Strata 1 (S1), maka para penguji harus benar-benar menguji dn menyeleksi dengan benar skripsi mahasiswa. Salah satu caa yang tepat menurut saya adalah dapat menggunakan metode jarh wa takdil dalam usaha pengujian skripsi mahasiswa.
B.       Ilmu Jarh wa Takdil
            Jarh yaitu mengkritik rawi sehingga yang bersangkutan diketahii kecacatannya, baik cacat dalam keadilannya ataupun cacat dalam hafalannya.
            Takdil yaitu menyisihkan dari sifat-sifat jelek dan member label kepada perawi orang yang adil dan hafalannya kuat (tsiqah).
      Ilmu Jarh’ Wa’takdil  yaitu  ilmu yang membicarakan tentang kecacatan atau keburukan perawi dan juga kebaikan perawi sehingga diketahui apakah hadits yang disampaikannya bisa diterima atau ditolak.
            Jarh adalah kekurangannya sedangkan takdil adalah kelebihannya. awal munculnya jarh wa takdil bersamaan dengan periwayatan hadist, karena jika diharuskan mengetahui berita benar atau salah maka diharuskan mengetahui pembawa berita tersebut, apakah jujur atau tidak (bisa diterima berita yang diberikan atau tidak). Yang pada akhirnya akan diketahui dari berita-berita yang diberikan kepada para periwayat mana yang hafid atau mana yang dobit.
Syarat-syarat bagi orang yang melakukan jarh wa takdil adalah:
  1. Islam
  2. Takwa
  3. Jujur
  4. Berilmu pengetahuan Bahasa Arab
  5. Menguasai ilmu hadits
6.      Tidak Wara’ (Terhindar dari dosa kecil, besar)
7.      Mengetahui sebab-sebab jarh wa takdil.
Adapun cara-cara men-jarh’ wa’takdil hadits, yaitu:
·         Mendahulukan Yang jarh’ dari takdil bila dalam penelitian paling banyak jarh’
·         Mendahulukan yang takdil dari yang jarh  bila dalam penelitian lebih banyak yang takdil.
·         Melakukan penelitian kembali
·         Jarh tidak diterima bila peneliti dan yang diteliti pernah bermusuhan (sedang bermusuhan).
Adapun kaidah-kaidah dalam jarh wa takdil adalah:
1.      Jarh itu wajib ketika perlu, haram ketika keterlaluan.
2.      Jarh wa ta'dil tidak diterima daripada orang yang tidak mempunyai keahlian.
3.      Jarh diterima dengan penjelasan sebab:
·                  Tidak diterima jarh pada seseorang yang telah ijmak menta'dilkannya.
·                  Tidak diterima jarh pada seseorang yang telah dita'dilkan oleh seorang pakar melainkan dengan penjelasan.
·                  Mengambil kata-kata yang menjarhkan lebih utama dari meninggalkannya ketika tiada ta'dil.
4.      Ta'dil diterima tanpa penjelasan sebab.
5.      Utamakan jarh daripada ta'dil apabila keadaan kedua-duanya sama keadaan.
6.      Bukan semua yang diperkatakan tentangnya adalah dijarh.
7.      Setiap pengkritik itu berijtihad untuk mengenali seseorang.
8.      Ulama'-ulama' berselisih pendapat dalam mendaifkan seseorang. Contohnya:
·              ikhtilaf mereka mengenai orang yang dituduh menipu.
·             ikhtilaf mereka mengenai orang yang banyak pada hadisnya wahm dan bercampuraduk.
·             ikhtilaf mereka mengenai orang yang banyak kesalahan dan kesilapan.
9.      Jarh tidak diterima daripada ahli sezaman melainkan dengan dalil dan hujah.
10.  Pengiktirafan seseorang akan penipuannya menyingkirkan sifat adilnya.
11.  Jika ada jarh dan ta'dil kedua-duanya, tidak boleh meriwayat salah satu daripadanya sahaja.
12.  Merawikan dengan kalimah ta'dil tidak diterima.
13.  Thiqah seseorang bukan pada riwayat dan perawinya.
·         Bukan hanya riwayat jemaah daripada seseorang menjadikannya seorang masyhur.
·         Bukanlah jarh pada perawi jika ia lupa hadisnya yang diriwayatkan oleh seseorang yang thiqah.
·         Riwayat seseorang daripada seseorang bukanlah ta'dil (melainkan pendapat Ibnu Hibban).
·         Hadis yang tidak diguna pakai bukanlah satu jarh kepada perawinya
14.  Tidak boleh berbaik sangka pada perawi.
Dalam prakteknya usaa jarh wa takdil ini dapat dibantu deanan ilmu takhrijul hadits yaitu ilmu yang digunakan untuk menelusuri hadits.
Tujuan Takhrij Hadits :
Mengetahui sumber hadits
Mengeahui kualitas hadits
Menambah ilmu hadits secara shohih
Untuk mengetahui hadits terebut apakah dari Rasul atau tidak
Cara-cara mentakhrij Hadits :
Melalui lafaz atau kata pertama hadits
Melalui lafaz yang ada pada hadits
Melalui perawi pertama di hadits tsb
Melalui tema hadits
Melalui status hadits